Martin Manurung Soroti Kinerja Pemerintah dalam Penanganan Covid-19: Jauh dari Kata Maksimal
PIKIRAN RAKYAT – Pandemi belum juga usai bahkan kasus positif pun malah mengalami kenaikan, penanganan Covid-19 yang masih diupayakan belum juga terlihat hasilnya.
Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung menyoroti penanganan pandemi Covid-19 hingga tahun kedua ini.
Melihat perkembangan yang ada, menurutnya pemerintah masih jauh dari kata maksimal dalam penanganannya.
Martin Manurung coba membandingkan penanganan pandemi dengan kota di Rusia yang ia kunjungi, Moskow yang sudah tidak lagi melakukan pembatasan-pembatasan ketat tak seperti di Indonesia.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi VI DPR RI dengan BUMN Holding Farmasi yang digelar secara virtual, ia mengatakan bahwa di Moskow, PCR testing sudah mencapai 135 juta, sehingga warga dan pemerintahnya percaya diri menangani kasus pandemi.
“Di Moskow ini misalnya, PCR testing sudah mencapai 135 juta, sehingga mereka juga pede (percaya diri, red) untuk bisa me-manage pandemi. Pembatasan tidak lagi terlalu banyak, tetapi manajemen pandemi ini yang kemudian dilakukan dengan baik,” kata Martin Manurung.
Dilansir Pikiran-Rakyat.com dari DPR RI, Rabu, 26 Mei 2021, ia mengakui bahwa Indonesia kalah jauh dari negara-negara Eropa dalam hal testing dan tracing virus Covid-19.
Menurutnya, hal ini disebabkan kurang baiknya sistem controlling dan monitoring yang dilakukan pemerintah Indonesia dan menyebabkan terjadinya kasus vaksin palsu di Bandara Kualanamu pada tempo hari.
“Saya ingin menekankan kepada kita semua bahwa controlling dan monitoring itu sangat penting. Jadi, ini jangan sampai terulang lagi karena ini akan meruntuhkan seluruh sistem kepercayaan kita kepada BUMN yang saat ini sedang kita bangun bersama,” katanya.
Menurutnya, insiden yang sempat menggemparkan publik tersebut menyebabkan terkikisnya kepercayaan masyarakat terhadap BUMN.
“Jadi bagaimana BUMN ini menjadi dipercaya oleh masyarakat kita apalagi dalam masa pandemi,” tegas politisi Fraksi Partai NasDem ini.
Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung menilai bahwa adanya testing dan tracing yang belum maksimal oleh pemerintah, rakyat harus menanggung akibat seperti pelarangan mudik lebaran.
“Itu luar biasa saya lihat kekacauan dalam arti, bagaimana kita bisa membuat orang jutaan manusia tidak bergerak dan itu tidak gampang. Kenapa kita membatasi sedemikian ketat? Karena testing dan tracing kita yang belum maksimal atau terbatas,” katanya.
Untuk itu, Martin Manurung meminta adanya kerja sama dari seluruh stakeholder, termasuk BUMN Holding Farmasi sebagai lead dari upaya pemberantasan virus Covid-19.
Sumber: pikiran-rakyat.com, Jurnalis: Mutia Yuantisya, Rahmi Nurfajriani




